Indonesia punya banyak kain tradisional yang unik—kalau di Jawa ada Batik, di Sumba ada Tenun, nah di Kalimantan Selatan, orang Banjar sangat bangga dengan Sasirangan.
Jangan kira Sasirangan cuma kain cantik buat oleh-oleh. Sebenarnya, kain ini membawa cerita panjang, dipenuhi makna filosofis dan unsur magis yang sudah mengakar dalam kehidupan orang Banjar sejak dulu.
Kalau penasaran, yuk kita ngobrol soal Sasirangan: asal-usulnya, maknanya, dan kenapa kain ini begitu spesial.
1. Dari Mana Asalnya? Kisah Panjang di Balik Nama Sasirangan
Sasirangan itu dari kata “sirang” dalam bahasa Banjar—artinya menjelujur, atau menjahit pakai pola tertentu. Nama ini benar-benar menjelaskan proses membuat kainnya: motifnya dibentuk dengan menjelujur dan mengikat benang di atas kain putih, lalu dicelup ke pewarna.
Ada legenda yang melekat kuat di balik Sasirangan, terutama cerita Candi Laras di abad ke-12, zaman Kerajaan Negara Dipa—cikal bakal Kesultanan Banjar.
Konon, Patih Lambung Mangkurat bertapa di atas rakit selama 40 hari 40 malam demi mencari raja untuk negaranya. Di akhir pertapaan, ia sampai di Rantau Kota (sekarang bagian Tapin) dan bertemu Putri Junjung Buih, sosok perempuan misterius yang muncul dari buih sungai.
Putri Junjung Buih mau jadi raja, tapi ada syarat. Ia minta dibuatkan istana dalam sehari oleh empat puluh bujang, dan sehelai kain yang ditenun dan “disirang” empat puluh gadis perawan dalam satu hari juga. Nah, kain permintaan itulah yang dipercaya sebagai cikal bakal Sasirangan—waktu itu warnanya kuning, warna kebesaran kerajaan.
Dulunya Sakral, Sekarang Dipakai Sehari-hari
Dulu, Sasirangan lebih dikenal sebagai “Kain Pamintan,” kain permintaan yang sakral. Biasanya dipakai buat ritual penyembuhan (balian) atau mengusir roh jahat. Warna kain pun menyesuaikan tujuan atau penyakit yang ingin disembuhkan:
- Kuning: Untuk penyakit kuning/liver.
- Merah: Buat sakit kepala, insomnia, atau masalah syaraf.
- Hijau: Untuk kelumpuhan.
- Hitam: Dipercaya bisa mengusir roh jahat atau menyembuhkan demam.
Tapi sekarang, Sasirangan berubah jadi produk sehari-hari dan punya nilai ekonomi tinggi. Pengaruh Islam membuat fungsi magisnya makin luntur. Kain ini jadi seragam resmi, baju sehari-hari, sampai bahan utama aneka produk fashion.
2. Keunikan Cara Membuat Sasirangan
Sasirangan punya teknik pewarnaan yang beda dibanding batik atau tenun. Kalau batik pakai canting dan lilin, kalau tenun benangnya diikat sebelum ditenun, nah Sasirangan mengandalkan metode tie-dye yang khas Banjar.
Step-nya kayak gini:
- Kain (biasanya katun putih atau sutra) digambar motifnya dulu.
- Motif tadi dijahit jelujur pakai benang yang kuat. Jarak jahitannya menentukan detail motif nanti.
- Benang dijepit atau ditarik sampai kainnya berkerut, lalu diikat erat.
- Kain yang sudah diikat dicelup ke pewarna alam seperti kunyit, daun tarum, atau kulit buah rambutan. Sekarang sih banyak pengrajin pakai pewarna sintetis biar hasil warnanya lebih mencolok dan tahan lama.
- Setelah dicelup, ikatan benang dipotong pelan-pelan, kainnya dicuci sampai bersih, lalu dijemur di tempat teduh.
Karena proses ini, warna motif Sasirangan nggak sekaku batik. Efek gradasi warnanya halus, malah kadang motifnya sedikit samar, jadi ada sentuhan lembut yang bikin kainnya beda dan unik.
3. Ragam Motif dan Filosofi dalam Sasirangan
Motif Sasirangan penuh makna. Kebanyakan terinspirasi dari alam dan benda-benda di sekitar Banjar. Setiap pola punya pesan tersendiri.
Contohnya:
- Gigi Haruan: Bentuk zig-zag yang mirip gigi ikan haruan (ikan gabus), simbol ketajaman pikiran dan semangat pantang menyerah.
- Kambang Kacang: Motif bunga kacang, lambang persaudaraan dan gotong royong.
- Bintang Bahambur: Gambaran langit malam penuh bintang, simbol harapan tinggi dan rezeki yang terus mengalir.
- Hiris Gagatas: Mirip irisan kue tradisional Banjar, maknanya keindahan, keseimbangan hidup, dan harmoni.
- Naga Balimbur: Bentuk naga mandi, lambang kemakmuran dan perlindungan, serta pengingat agar selalu membersihkan diri dari hal-hal buruk.
- Kulat Karikit: Jamur kecil di batang pohon, simbol ketahanan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kondisi.
Sekarang, motif-motif baru terus bermunculan. Banyak pengrajin menggabungkan beberapa pola klasik dalam satu kain, bahkan mengembangkan desain modern biar lebih relevan dengan selera zaman.
4. Sasirangan Hari Ini
Sekarang, Sasirangan bukan kain sakral khusus ritual lagi. Hampir semua orang Banjar bangga mengenakannya. Pegawai negeri atau pelajar pake Sasirangan di hari tertentu—bahkan jadi wajib.
Desainer lokal sampai nasional kini sering banget pakai Sasirangan untuk koleksi busana siap pakai, gaun pesta, sampai aksesori seperti tas dan dompet. Pemerintah juga rajin ngadain pameran dan pelatihan, anak muda Banjar makin sering promosiin Sasirangan lewat media sosial.
Kesimpulan
Sasirangan bukan sekadar kain, tapi bagian penting dari jati diri Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Di tiap helai benangnya, tersimpan kisah sejarah, filosofi, dan semangat perubahan zaman—dari kain sakral hingga ikon fashion modern.
Melestarikan Sasirangan itu sama saja dengan merawat warisan budaya dan menjaga identitas bangsa Indonesia. Dan, selama masih ada yang mengenakan dan mencintai Sasirangan, sejarah Suku Banjar akan terus hidup.
.jpg)