Memuat Keanggunan...
Jurnal Najwa

Sejarah Sasirangan: Dari Simbol Kerajaan ke Ikon Fashion Masa Kini

Juli 01, 2026

Coba bayangkan, kain Sasirangan yang sekarang bisa kita lihat tampil di panggung fashion week, dulu pernah dianggap sangat sakral. Dulu, kain ini bukan cuma soal motif indah—bahkan, hanya orang-orang tertentu yang boleh memakainya dan proses pembuatannya penuh ritual.

Buat masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, Sasirangan itu bukan kain biasa. Lembaran ini jadi saksi bisu jalannya sejarah—awalnya pusaka kerajaan, sempat jadi alat pengobatan spiritual, dan sekarang berubah jadi bintang industri fashion modern.

Kalau penasaran gimana perjalanan panjang Sasirangan, yuk telusuri kisahnya dari awal sampai hari ini.

Abad ke-12: Legenda Putri Junjung Buih, Awal Mula Sasirangan

Cerita tentang Sasirangan mulai dari legenda di abad ke-12, masa Kerajaan Negara Dipa—cikal bakal Kesultanan Banjar. Nama-nama penting di cerita ini: Patih Lambung Mangkurat dan Putri Junjung Buih.

Singkatnya, Lambung Mangkurat melakukan pertapaan unik, "balarut banyu"—bertapa selama 40 hari 40 malam di sungai, demi mencari pemimpin ideal. Di tengah pencarian, terdengar suara perempuan dari buih air sungai, yang ternyata Putri Junjung Buih. Si putri setuju jadi raja, tapi dengan dua syarat berat dan harus selesai dalam satu hari:

  • Pertama, istana yang dibangun 40 orang bujangan.
  • Kedua, sehelai kain tenun yang diwarnai 40 gadis perawan.

Permintaan Putri Junjung Buih soal kain kuning yang diwarnai khusus ini dipercaya sebagai asal mula Sasirangan. Dan, warna kuning—simbol kebesaran kerajaan—menjadi warna sakral pertamanya.

Era Kerajaan: Kain Pemintaan, Penolak Bala, dan Ritual Balian

Setelah Negara Dipa bertransformasi jadi Kesultanan Banjar, kain Sasirangan (waktu itu disebut "Kain Pamintan") tetap istimewa. Bukan untuk semua orang; masih erat hubungannya dengan kepercayaan—khususnya animisme dan dinamisme zaman itu.

Kain ini biasanya dibuat khusus untuk orang yang sakit atau terkena musibah, dipakai dalam upacara adat penyembuhan yang namanya "Balian." Warnanya pun nggak asal-asalan. Masing-masing dipilih sesuai tujuan:

  • Kuning: buat penyakit kuning atau perbaikan liver.
  • Merah: untuk sakit kepala hebat, insomnia, atau gangguan saraf.
  • Hijau: dipercaya menyembuhkan lumpuh.
  • Hitam: buat menurunkan demam atau "mengusir" roh jahat.

Kain ini dipakai sebagai laung (ikat kepala), sabuk, atau tapih (sarung). Seluruh proses pembuatannya, doanya, sampai pemakaiannya diawasi tokoh adat dan harus sesuai aturan.

Masa Masuk Islam: Nilai Spiritual Mulai Bergeser

Seiring masuknya Islam ke Banjar—khususnya sejak Pangeran Samudera jadi Sultan Suriansyah dan memeluk Islam—kepercayaan mistis pada Sasirangan mulai berubah. Islam menekan praktik-praktik penyembuhan gaib seperti Balian, dan perlahan fungsi magis Sasirangan memudar.

Orang Banjar mulai melihat nilai seni dan estetika kain ini. Tapi selama masa kolonial, produksi Sasirangan sempat tergeser karena tidak lagi diwajibkan untuk ritual.

Bangkit di Era 80-an: Dari Ritual ke Identitas Banjar

Bangkitnya Sasirangan benar-benar terjadi di tahun 1980-an. Pemerintah daerah Kalimantan Selatan melihat nilai budaya dan ekonomi dari Sasirangan, lalu mulai gerakan pelestarian.

Kain ini tidak eksklusif ritual lagi, malah diproduksi massal untuk pakaian sehari-hari. Pemerintah bahkan bikin aturan: PNS dan siswa sekolah di hari tertentu harus pakai Sasirangan sebagai seragam. Kebijakan ini menyelamatkan perajin dan melahirkan sentra kerajinan Sasirangan, seperti di Kampung Sasirangan, Banjarmasin.

Sasirangan Saat Ini: Bintang Fashion Generasi Muda

Sekarang, Sasirangan bertransformasi total. Para desainer muda Banjar kreatif banget meramu Sasirangan jadi karya-karya keren di dunia mode.

Beberapa perubahan yang paling nyata:

  • Warna makin eksploratif: Dulu hanya kuning, merah, hijau, hitam (pewarna alami); sekarang ada Sasirangan pastel, monokrom, bahkan neon—karena pewarna sintetis sudah umum.
  • Motifnya makin bervariasi: Motif klasik seperti Gigi Haruan dan Naga Balimbur sering dipadukan dengan gradasi kekinian, corak asimetris, atau dikolaborasikan motif lain.
  • Produk semakin banyak: Sasirangan bukan cuma buat baju. Sekarang tampil di sneakers, tas kulit premium, scarf, sampai jaket bomber bergaya streetwear.

Penutup

Cerita Sasirangan itu perjalanan yang luar biasa. Dari kain hasil syarat magis seorang putri sungai, jadi penolak bala, sampai akhirnya berjaya di butik dan catwalk ternama—kain ini membuktikan, budaya bisa banget bertahan dan berkembang mengikuti zaman.

Memakai Sasirangan saat ini bukan cuma soal penampilan. Ada sejarah panjang dan identitas yang melekat. Intinya, memakai Sasirangan hari ini berarti merayakan warisan masa lalu sambil melangkah penuh gaya ke masa depan.

Label / Tags:

#SejarahSasirangan #KerajaanBanjar #FashionModern #KainPamintan #BudayaKalimantan #WastraNusantara
Bagikan: