Kain Sasirangan sudah jadi kebanggaan sekaligus warisan budaya orang Kalimantan Selatan. Tapi makin ke sini, permintaan pasar soal kain ini makin tinggi. Sekarang di pasaran banyak kita temui “Sasirangan Printing”—kain bermotif Sasirangan yang dibuat secara massal pakai mesin cetak tekstil. Dari jauh memang terkesan mirip, tapi kenyataannya, proses, kualitas, dan esensi keduanya jauh beda.
Buat kamu yang mau beli kain Sasirangan—entah untuk dipakai sendiri, seragam kerja, atau oleh-oleh khas Banua—penting banget tahu cara membedakan yang asli dengan yang printing. Jangan sampai sudah bayar mahal, eh ternyata dapat kain hasil mesin. Nah, di bawah ini ada beberapa cara simpel buat membedakannya.
1. Lihat Bekas Lubang Jarum (Jelujur)
Ini cara paling mudah dan langsung kelihatan untuk cek keaslian Sasirangan. Sasirangan asli itu dibuat dengan proses menjahit benang ke kain, yang lalu dicelup ke pewarna. Jadi, di bagian motif pasti ada jejak lubang jarum kecil di sepanjang motifnya. Kadang sisa tarikan benang juga masih terlihat tipis. Di Sasirangan printing, permukaan kainnya mulus, nggak ada bekas jahitan sama sekali.
2. Lihat Bagian Belakang Kain
Kalau Sasirangan asli dicelup manual pakai pewarna, warnanya bakal meresap ke semua serat kain. Jadi, motifnya sama jelas, baik dari depan maupun belakang. Sebaliknya, printing itu motifnya cuma dicetak di permukaan atas. Bagian belakangnya biasanya polos atau warnanya pudar banget.
3. Motif: Rapi vs. Unik
Kain Sasirangan asli dikerjakan tangan, jadi motifnya pasti nggak 100% simetris atau rapi. Kadang ada garis melenceng atau sedikit melebar. Tapi justru di situ letak seninya, karena tiap kain punya keunikan sendiri. Sedangkan Sasirangan printing, motifnya super rapi, identik, dan terasa kaku kayak cetakan komputer.
4. Cium Aromanya
Kain Sasirangan asli biasanya masih punya aroma khas, entah bau sisa pewarna tekstil sintetis atau bau alami dari rebusan daun/kayu. Kain printing sih aromanya standar-standar aja seperti kain pabrikan pada umumnya, nggak ada jejak proses pewarnaan manualnya.
5. Bandingkan Harga
Harga nggak bohong. Sasirangan asli biasanya lebih mahal karena prosesnya lama, butuh ketelatenan pengrajin dari urusan motif sampai pewarnaan. Printing bisa diproduksi mesin dalam jumlah banyak dan dijual murah. Tapi kain asli punya nilai seni dan membawa “jiwa” pengrajinnya—hal yang nggak akan kamu dapat dari kain hasil mesin.
Intinya...
Nggak salah juga beli Sasirangan printing jika cuma butuh buat seragam massal atau memang anggaran terbatas. Tapi kalau bicara kualitas, estetika, dan kebanggaan budaya, Sasirangan asli itu nggak tergantikan. Jangan lupa, selalu teliti sebelum membeli: raba kainnya, balik ke bagian belakang, dan cari bekas lubang jahitan jelujurnya!
Mari terus lestarikan warisan budaya dan dukung pengrajin lokal di Banua!
