Pernah nggak sih kamu kepikiran, dari sekian banyak kain tradisional di Indonesia, kenapa justru Sasirangan yang begitu melekat dan dibanggakan oleh masyarakat Kalimantan Selatan? Apa sih istimewanya lembaran kain ini sampai-sampai diakui secara resmi dan dijadikan warisan budaya?
Kalau kamu jalan-jalan ke Banjarmasin atau daerah lain di Kalsel, kamu bakal gampang banget nemuin kain ini. Dari seragam anak sekolah, baju kantoran, gaun kondangan mewah, sampai kaos santai buat nongkrong, semuanya pakai elemen Sasirangan.
Bagi orang Banjar, Sasirangan itu jelas nggak cuma sekadar kain dengan motif keren yang dijahit jadi baju. Lebih dari itu, Sasirangan dianggap seperti kanvas hidup yang menyimpan jejak sejarah, sistem kepercayaan, sampai perjalanan hidup masyarakat Banjar dari zaman ke zaman.
Nah, buat kamu yang penasaran, ini dia ulasan lengkap alasan kenapa Sasirangan layak banget menyandang status sebagai warisan budaya kebanggaan Kalimantan Selatan:
1. Usianya Tua Banget, Saksi Bisu Peradaban Ratusan Tahun
Suatu karya budaya biasanya dibilang warisan kalau sudah eksis sangat lama, bertahan lintas generasi, dan masih relevan sampai sekarang. Nah, Sasirangan ini sudah ada sejak abad ke-12 lho!
Tepatnya sejak era Kerajaan Negara Dipa, yang merupakan cikal bakal Kesultanan Banjar. Kain ini sangat lekat dengan cerita legenda lokal tentang Patih Lambung Mangkurat dan Putri Junjung Buih. Konon, kain Sasirangan berwarna kuning (warna kebesaran kerajaan) adalah salah satu syarat mutlak yang diminta sang Putri sebelum ia mau diangkat menjadi raja. Jadi, Sasirangan ini jelas bukan barang baru atau sekadar tren fashion sesaat. Usianya sudah ratusan tahun, jadi bukti nyata peradaban orang Banjar zaman dulu.
2. Punya Nilai Spiritual, Magis, dan Filosofi Mendalam
Jauh sebelum dijadikan busana kece buat sehari-hari seperti sekarang, Sasirangan dulunya lahir dari kebutuhan spiritual. Di masa lalu, masyarakat mengenalnya sebagai Kain Pamintan (kain permintaan) yang sifatnya sangat sakral.
Kain ini biasanya dipakai buat alat penyembuhan penyakit lewat ritual adat Balian atau sebagai penolak bala. Warnanya pun dibedakan berdasarkan niatnya. Misalnya, warna kuning untuk menyembuhkan penyakit kuning, merah untuk sakit kepala, hijau untuk kelumpuhan, dan hitam untuk mengusir roh jahat.
Nggak cuma warna, motifnya juga nggak asal gambar. Misalnya motif Gigi Haruan melambangkan ketajaman pikiran dan sifat pantang menyerah. Lalu ada Kambang Kacang yang berarti keakraban dan persaudaraan. Jadi, ada pesan moral dan filosofi hidup tersendiri di setiap goresan motifnya yang diwariskan leluhur.
3. Proses Pembuatannya 100% Manual dan Butuh Kesabaran Ekstra
Nama "Sasirangan" itu sendiri diambil dari kata menyirang dalam bahasa Banjar, yang artinya menjelujur. Nah, proses bikin kain ini unik banget dan sampai sekarang para pengrajin aslinya masih mempertahankannya secara manual.
Bayangin aja, prosesnya dimulai dari menggambar motif di atas kain putih, lalu motif itu harus dijahit jelujur pakai benang satu per satu. Setelah itu, benangnya ditarik kuat sampai kain mengerut, diikat rapat, baru deh dicelup ke pewarna pakai teknik rintang warna (tie-dye khas Banjar). Terakhir, ikatan dilepas dan kain dicuci. Proses yang butuh ketelitian tinggi ini bikin warna dan motif Sasirangan punya efek gradasi lembut yang nggak kaku. Keterampilan tangan inilah yang jadi kekayaan budaya tak ternilai.
4. DNA dan Identitas Kuat Orang Banjar
Sebuah budaya itu akan terus hidup kalau memang dihidupi dan dipakai oleh warganya. Saat ini, Sasirangan sudah resmi bertransformasi dari kain sakral menjadi identitas kuat Urang Banjar.
Tiap hari tertentu dalam seminggu, kain ini wajib dipakai di kantor-kantor pemerintahan, instansi swasta, dan sekolah-sekolah di seluruh Kalimantan Selatan. Bahkan, kalau kamu melihat ada orang yang pakai baju bermotif Sasirangan saat lagi di bandara, di luar pulau, atau bahkan di luar negeri, pasti kamu akan langsung teringat, "Wah, pasti orang Banjar atau dari Kalimantan Selatan, nih!". Saking kuatnya, kain ini sukses jadi simbol kebanggaan daerah.
5. Menghidupi Ribuan UMKM dan Pengrajin Lokal
Alasan lain kenapa ia sangat berharga adalah dampak ekonominya. Melestarikan Sasirangan berarti menghidupi roda ekonomi masyarakat lokal. Di Kalimantan Selatan, ada banyak banget kampung pengrajin (seperti Kampung Sasirangan di Banjarmasin) yang mayoritas memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dan warga sekitar.
Dengan dijadikannya Sasirangan sebagai warisan budaya, permintaan pasar terus ada. Ini ngebantu banget para pengrajin lokal untuk terus berkarya, mendapat penghasilan, dan menurunkan ilmunya ke anak cucu mereka biar nggak putus di tengah jalan.
6. Resmi Ditetapkan Negara sebagai Warisan Budaya Takbenda
Puncaknya, karena nilai sejarah, estetika, dan makna budayanya yang luar biasa tebal, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI sudah secara resmi menetapkan Sasirangan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional dari Kalimantan Selatan.
Pengakuan level nasional ini bikin posisi Sasirangan sejajar lho sama kain-kain tradisional legendaris Indonesia lainnya kayak Batik dari Jawa, Songket dari Sumatera, dan Tenun Ikat dari Indonesia Timur.
Kesimpulannya...
Sasirangan jadi warisan budaya kebanggaan Kalimantan Selatan itu bukan cuma karena motifnya indah dipandang mata. Lebih dari itu, kain ini membawa identitas, merangkum pesan moral dari leluhur, menjadi saksi sejarah, dan terus menghidupi masyarakatnya sampai detik ini.
Sekarang, tugas kita sebagai generasi muda bukan cuma sekadar bangga pas memakainya buat OOTD. Kita juga perlu dukung para pengrajin lokal (pastikan beli yang asli handmade, bukan printing pabrik ya!) dan terus bantu ceritain kisah hebat di balik kain ini biar Sasirangan tetap lestari untuk generasi seterusnya.
.jpg)